Say No To Valentine Day

Pada tanggal 14 Februari yang tersisa beberapa saat lagi, bagi sebagian orang dianggap sebagai hari yang penuh makna. Di hari itu banyak sekali orang yang mencoba menunjukkan cintanya kepada orang yang dikasihi dengan segala macam cara. Yang paling umum ucapan sayang ini ditujukan buat orang special yan entah dari mana awalnya sehingga ada kata “Pacar”. Demi menarik simpati sang pacar, seringkali ungkapan kasih sayangnya ini berlebihan, yang isinya rayuan gombal semata.
Silahkan ditunggu !!!. Beberapa saat lagi pasti akan banyak Broadcast BBM, status jejaring sosial, eksplorasi acara – acara di berbagai media, segala hal yang berhubungan dengan “Valentine”.
Hal yang sangat disayangkan adalah ketika generasi Muslim juga turut serta bahkan menjadi bagian sentral di dalam acara – acara yang bertemakan Valentine Day ini. 
Berikut Penulis mencoba mengulas sedikit tentang apadan bagaimana Valentine Day. Semoga menjadi bahan pemikiran bagi generasi muslim untuk lebih berhati – hati dalam menyikapi segala hal.

Definisi 
Berikut definisi Valentine diambil dari beberapa sumber :
o Encyclopedia Americana volume XIII, page 464,”The date of the modern celebration, February 14, is believe to derive the execution of a Christian martyr, Saint valentine, on February14, 270.( Tanggal 14 Februari itu adalah perayaan modern yang berasal dari hari dihukum matinya seorang martir atawa pahlawan Kristen, yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 Masehi )
o Encyclopedia Americana Volume XXVII halaman 860,”A day on wich lovers traditionally exchange affectionate messages and gifts. It observed on February 14, the date on wich Saint Valentine was martyred.” ( Yaitu sebuah hari dimana orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari dimana santo Valentine meninggal dan dianggap sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan atawa keyakinan).
o Encyclopaedia Britannica Volume XIV hlaman 949. “The Saint Valentine who is spoken as the apposite Rhaetia and venerated in Passau as its first bishop….”. ( Santo Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup yang pertama )

Sejarah Valentine day
Valentine Day mulai ada sejak abad keempat Sebelum Masehi yang dirayakan kota Roma. Perayaan tersebut tidak disebut Valentine Day, karena perayaan hari kasih sayang itu sebenarnya buat mengjhormati dewa mereka (Lupercus).
Acaranya berbentuk upacara yang diselingi penarikan undian dalam rangka mencari pasangan. Dengan cara menarik gulungan kertas yang bertuliskan nama, para gadis mendapatkan pasangan lantas mereka menikah untuk jangka waktu setahun. Setelah mereka ditinggalkan begitu saja dan sudah sendiri lagi (tidak memiliki pasangan), mereka menuliskan namanya untuk dimasukkan kembali ke kotak undian pada upacara berikutnya. 
Upacara rutin ini sudah dilakukan kurang lebih 800 tahun lamanya. Dan ketika Katolik mulai berkembang, para pemimpin gereja ingin turut serta dalam perayaan tersebut. Mereka mencari seorang santo (Orang suci bagi Katolik), yang disiasati sebagai pengganti dewa kasih sayang (Lupercus). Pengganti Lupercus ini adalah Santo Valentine, seorang uskup yang tewas sebagai martir sekitar 200 tahun sebelum masa itu.
Salah satu alasan menjadikan Santo Valentine sebagai pengganti Lupercus pada hari kasih sayang, tidak terlepas dari riwayat Santo. Konon, ia dihukum mati Kaisar Claudius II karena melanggar aturan yang dibuat sang kaisar. PadaTahun 270, kekaisaran Roma membutuhkan sejumlah tentara. Sang Kaisar megeluarkan aturan yang melarang perkawinan. Agar para tentara bisa lebih fokus ke peperangan. Tapi uskup Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan - pasangan yang menikah selanjutnya dia berkati di tempat yang tersembunyi. Hingga akhirnya hal tersebut diketahui kaisar, sehingga Santo Valentine pun dihukum pancung.
Dengan alasan itulah Santo Valentine dipilih menggantikan dewa kasih sayangnya orang Roma (Lupercus). Karena menurut mereka, peranan Uskup Valentine kepada para pecinta sangat besar.
Seiring perkembangan, siasat pemimpin gereja katolik itu nampaknya berhasil dengan sukses. Upacara kasih sayang tersebut sudah menjadi rutinitas ritual yang bagi mereka yang seolah wajib dirayakan. Mereka mengemas acara kasih sayang ini sangat rapi sehingga kesan formalnya bisa disamarkan. Dengan siasat tersebut, sangat banyak generasi muslim yang terjebak pada perayaan hari kasih sayang. Seperti melakukan hubungan seks sesuka hatinya. Gonta-ganti pasangan semaunya. Semua yang mereka lakukan itu sebenarnya bukan lagi didasari oleh kasih sayang, akan tetapi hawa nafsu belaka.

Valentine dalam presepsi Islam
Sebagai generasi muslim kita harus kritis dalam melihat persoalan, jangan hanya karena trend semata, akhirnya kita ikut - ikutan. Fahami dulu dasar hukum syar’i apa yang akan kita laksanakan. 
Cinta merupakan fitrah dan anugerah dari Allah untuk seluruh manusia. Rasulullah sangat menganjurkan kita untuk memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada sesama manusia. Akan tetapi, pengertian cinta dan kasih sayang yang dianjurkan Rasulullah tidaklah seperti pada perayaan Valentin Day yang lebih mengarah kepada cinta pada lawan jenis bahkan cenderung mengumbar hawa nafsu. Akan tetapi kasih sayang yang yang dianjurkan Rasulullah adalah lebih hakiki. Kasih sayang ayng dianjurkan Rasulullaoh adalah kasih sayang kepada orang tua, adik, kakak, isteri atau suami, saudara sesama muslim. Bahkan lebih jauh Rasulullah menganjurkan kita untuk menyayangi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan.
Dari sejarah Valentine yang sudah diuraikan, sebenarnya valentine day itu merupakan bagian dari acara keagamaan umat nasrani. Dan bagi kita umat Islam, turut merayakan, apalagi berpartisifasi aktif dalam kegiatan dan perayaan agama lain sangat dibatasi Al Qur’an yang harus menjadi pedoman hidup bagi kita. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (Qur’an Surat Al-kafiruun di Al-Qur’an). 
Sabda Rasulullah SAW :
“Barang siapa meniru suatu kaum , maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud, dan sanadnya diperkuat oleh Ibnu Taimiyah). 
Melihat kajian ini, sepatutnya Generasi Muslim menolak Valentine Days. Toleransi beragama jangan sekali – kali dijadikan alasan kita untuk ikut merayakan kepercayan agama lain. Jauh sebelum sang pastur Valentine dipenggal lehernya oleh kaisar, ajaran Allah SWT. sudah mengutamakan konsep kasih sayang dalam syi’arnya. Kasih sayang yang ikhlas harus tetap terpancar dari jiwa – jiwa muslimin dan terpelihara selamanya. Bukan hanya untuk satu hari saja.
Masalah cinta tidak akan ada yang bisa menandingi Rasulullah SAW. Beliau rela berkorban apa saja untuk berdakwah menyelamatkam kita sebagai umatnya. Tulusnya kasih sayang Rasulullah terhadap kita bisa kita baca dalam Al-Qur’an Surat At - Taubah ayat 128 : 
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”